I. NERACA PEMBAYARAN
a. Pengertian
Dalam
kamus ekonomi tertera pengertian, neraca pembayaran adalah daftar
piutang suatu perusahaan atau negara dengan perusahaan atau negara
lainnya selama waktu tertentu, umumnya satu tahun, yang diatur secara
sistematis.
Neraca pembayaran (balance of payment) adalah catatan
sitematis dari semua transaksi ekonomi internasional, baik
perdagangan, investasi, maupun pinjaman yang terjadi antara penduduk
dalam negeri suatu negara dan penduduk luar negeri selama jangka waktu
tertentu, lazimnya satu tahun, yang dinyatakan dalam dolar AS. (Tulus
tambunan, 2000).
Pendapat Tulus Tumbunan diidukung oleh
International Monetary Found (IMF) 1993 yang menyatakan, Balance of
payment adalah “A statement that systematically, for specific time
period, the economic transactions of an economic with the rest of the
world. Transaction, for the most part between residents and
nonresident, consist of those involving goods, services, and income;
those involving financial claim an assets and liabilities to, the rest
of the world; and those (such gift) classified as transfer, which
involve offsetting entries to balance in an accounting sense – one set
transaction”.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil
kesimpulan bahwa neraca pembayaran merupakan suatu ikhtisar atau
susunan sistematis yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk
suatu negara dengan penduduk negara lainnya selama jangka waktu
tertentu, biasanya selama satu tahun. Mencakup pembelian dan penjualan
barang – jasa dan transfer keuangan dari individu dan pemerintah asing,
begitu juga dengan transaksi financial. Dan pencatatan transaksi
tersebut menggunakan sistem akuntansi sehingga setiap transaksi yang
terjadi akan dicatat dua kali (double entry bookeping) dengan
menggunakan sistem debet-kredit.
b. Sistem Pencatatan Neraca Pembayaran
Pencatatan neraca pembayaran menggunakan dua variabel, yaitu debet dan kredit.
Transaksi
debet adalah transaksi yang menyebabkan terjadinya pembayaran kepada
penduduk negara lain atau transaksi yang menyebabkan arus uang keluar
yang terjadi antar negara. Transaksi debet meliputi :
1. Impor barang dari negara lain, pembayaran jasa transportasi, jasa asuransi, dan ongkos makelar kepada penduduk.
2. Pembayaran bunga dan dividen kepada penduduk lain.
3. Pembayaran hadiah dan pengiriman uang kepada penduduk negara lain.
4. Investasi jangka panjang yang ditanamkan oleh penduduk negara lain.
5. Penduduk yang melakukan pembelian emas dari negara lain.
6. Penduduk yang menabungkan uangnya di bank luar negeri.
Transaksi
kredit adalah transaksi yang menyebakan terjadinya penerimaan dari
penduduk negara lain atau yang menyebabkan arus masuk yang terjadi
antara negara. Macam-macam penyebab transaksi kredit:
1. Ekspor barang ke negara lain.
2. Penerimaan jasa transportasi, asuransi, ongkos makelar dari luar negeri.
3. Penerimaan bunga dan dividen dari penduduk negara lain.
4. Penerimaan hadiah dan kiriman uang dari penduduk negara lain.
5. Investasi jangka panjang yang ditanamkan oleh penduduk negara lain di dalam negeri.
6. Investasi jangka pendek yang ditanamkan penduduk negara lain di dalam negeri.
7. Penjualan emas pada penduduk negara lain.
8. Penduduk negara lain yang menabungkan uangnya di bank dalam negeri.
c. Komponen Neraca Pembayaran
1.
Neraca Berjalan, mencatat transaksi, berupa pembayaran yang diperoleh
dari perdagangan barang dan jasa . Transaksi ini dibagi menjadi dua:
Pertama,
balance of trade ► transaksi barang-barang yang disebut visible
account adalah catatan pembayaran dan penerimaan yang datang dari impor
dan ekspor barang-barang sifatnya sebagai barang yang tampak (tangible
goods). Ekspor barang dicatat pada sisi kredit (+) dan impor barang
dicatat pada sisi debet (-).
Kedua, Service Account ►transaksi
jasa-jasa disebut invisible account atau service account yang mencatat
pembayaran yang diperoleh dari perdagangan jasa dan pembayaran untuk
penggunaan modal. Contohnya pembayaran bunga, biaya transportasi, biaya
asuransi, remittance berupa jasa TKI atau TKW, dsb.
Lebih jelasnya mengenai debet-kredit yang terjadi pada neraca pembayaran seperti di bawah ini:
PERDAGANGAN BARANG DAN JASA
Debet Kredit
1. Impor barang-barang dagang
2. Impor jasa-jasa:
- Pembelian jasa angkutan.
- Pembelian jasa asuranasi
- Pengeluaran turis dalam negeri di luar negeri
- Pembelian jasa lainnya dari luar negeri
- Pembayaran investasi asing di dalam negeri oleh penduduk negeri 1. Ekspor barang dagang
2. Impor jasa-jasa, seperti:
- Penjualan jasa angkutan
- Penjualan jasa asuransi
- Pengeluaran turis mancanegara
- Penjualan jasa lainnya dari luar negeri
¬- penerimaan pendapatan investasi di luar negeri oleh orang lain
TRANSFER
Debet Kredit
1. Pembayaran pensiun pada orang asing.
2. Sumbangan swasta ke luar negeri
3. Bantuan pemerintah ke luar negeri 1. Penerimaan pensiun dari luar negeri.
2. Sumbangan swasta asing ke dalam negeri
3. Sumbangan pemerintah asing ke dalam negeri
Sumber Nopirin, 1992
2.
Neraca Modal, merupakan penghitung bagian yang kedua dalam neraca
pembayaran. Mencatat aliran modal jangka panjang dan jangka pendek.
Capital Account berlawanan dengan pencatatan yang ada di Current
Account, jadi ketentuannya tidak sama. Dan ketentuannya neraca modal
adalah apabila transaksi berbentuk impor modal maka dicatat sebagai
transaksi kredit (+). Sedangkan transaksi ekspor modal dicatat sebagai
transaksi debet (-).
Modal jangka panjang, semua modal yang masuk
ke suatu negara dicatat pada sisi kredit, atau modal yang keluar dari
suatu negara di letakkan pada debet, diinvestasikan dalam bentuk
aktiva. Modal jangka pendek, merupakan uang yang masih dalam bentuk
aktiva yang mudah dicairkan, seperti rekening bank dan surat berharga.
(Agus Maulana. Pengantar Makroekonomi. Edisi Kesepuluh, jilid 2)
Tabel transaksi debet dan kredit dalam neraca modal (capital account)
MODAL JANGKA PANJANG
Debet Kredit
1. Investasi langsung di luar negeri
2. Pembelian surat-surat berharga jangka panjang milik negara
3. Pinjaman jangka panjang yang diberikan kepada penduduk negara lain 1. Investasi asing di dalam negeri
2. Pembelian surat-surat berharga jangka panjang dalam negeri oleh penduduk asing
3. Pinjaman jangka panjang yang diterima dari penduduk negara lain
MODAL JANGKA PENDEK
Debet Kredit
4. Kredit untuk pedagang dari negara lain
5. Deposito bank di luar negeri
6. Pembelian surat-surat berharga luar negeri jangka pendek 4. Kredit untuk pedagang yang diberikan kepada negara lain.
5. Deposito bank dalam negeri milik negara lain
6. Penjualan surat-surat berharga dalam negeri jangka pendek kepada penduduk negara lain
Sumber Nopirin, 1992
Dua
aliran lalu lintas modal di atas dilakukan oleh pemerintah dan swasta.
Perbedaannya, lalu lintas pemerintah neto adalah selisih antara
pinjaman baru yang didapat dari luar negeri dan pelunasan utang pokok
dari pinjaman yang diperoleh pada priode sebelumnya. Sedangkan lalu
lintas modal swasta neto adalah selisih antara dana investasi dan
pinjaman swasta dari luar negeri dengan pelunasan utang pokok swasta dan
dana investasi ke luar negeri.
Intinya dalam transfer modal,
arus modal masuk atau impor dianggap sebagai keuntungan negara yang
bersangkutan. Dengan begitu, apabila arus modal masuk maka akan dicatat
sebagai transaksi kredit (positf). Sementara arus modal keluar dicatat
dalam transaksi debet (negatif). .
3. Selisih perhitungan (error and omission)
Error
and Omission adalah selisih yang tidak dapat diperhitungkan. Terdiri
dari kata error yang merupakan selisih yang terjadi kerena adanya
kesalahan pencatatan atau perhitungan, dan kata omission adalah selisih
karena adanya perdagangan atau transaksi penyelundupan atau
perdagangan yang tidak pasti tercatat.
4. Neraca Keseluruhan
Merupakan jumlah dari seluruh transaksi-transaksi yang ada pada neraca berjalan, neraca modal, dan selisih perhitungan.
Contoh neraca pembayaran Indonesia, 1998 dan 2001 (juta dolar US)
Jenis Mutasi Keuangan 1996/97 2000/01
a. Transaksi Berjalan
1. Ekspor-impor barang
a. Ekspor 52.038 65.408
i. non migas (39.267) (50.341)
ii. migas (12.771) (15.067)
-minyak (7.513) (7.954)
- Gas (5.258) (7.113)
b. Impor 45.819 40.367
i. Non Migas (41.126) (34.376)
ii. Migas (4.693) (5.989)
-Minyak (4.423) (5.653)
-LNG (270) (336)
Neraca perdagangan 62.219 25.041
2.Ekspor-impor jasa (neto) -14.288 -17.050
i. non migas (-10.747) (-12.500)
ii. migas (-3.541) (-4.550)
Neraca transaksi berjalan -8.069 7.991
b. Transaksi Modal
1. Modal pemerintah (neto) -820 3.218
i. Penerimaan 5.298 65.408
i. CGI (4.857) (2.420)
ii. Di luar CGI (441) (5.070)
ii. Pelunasan -6.118 -4272
2. Modal Swasta (neto) 13.138 -9.990
a. Penanaman modal langsung (6.546) (-4551)
b. Lainnya (6.592) (-5.439)
3. Jumlah (1) + (2) 12.318 -6772
c. Selisih perhitungan 701 3.824
Neraca keseluruhan 4.950 5.043
Dari contoh neraca pembayaran di atas dapat ditarik benang merah bahwa:
- Transaksi berjalan
Balance
of payment di atas terdiri dari ekspor-impor barang dan ekspor-impor
jasa. Dan kemudian dipilah menjadi migas dan non-migas. Dari data
tersebut dapat dianalisis bahwa pada tahun 1996/97s/d 2000/01 untuk
barang, terjadi kenaikan ekspor sebesar 13.370 dari 52.038 menjadi
65.408. Naiknya ekspor ini dipicu oleh ekspor non-migas dan migas (gas
alam) yang pertumbuhannya cukup signifikan untuk merubah neraca negara.
Selain itu, impor yang awalnya 45.819 turun menjadi 40.367. Turunnya
angka tersebut juga disebabkan oleh non-migas.
Sedangkan untuk defisit ekspor-impor jasa neto mengalami peningkatan dari 14.288 menjadi 17.050.
Angka
neraca perdagangan yang membaik dapat menjadi stimulus yang positif
pada neraca transaksi berjalan meskipun pada tahun 1996/97 defisit namun
mengalami perbaikan di tahun 2000/01 surplus.
- Transaksi Modal
Transaksi
modal di atas dibedakan menjadi lalu lintas modal pemerintah neto dan
modal swasta neto. Beda dengan neraca perdagangan yang menunjukkan
pembaikan cukup galak. Transaksi modal pada tabel di atas cukup
memprihatinkan. Bisa dibaca dari penerimaan pemerintah berupa pinjaman
yang meningkat dari 5.298 ke 7.490, sedangkan pelunasannya menurun dari
6.118 menjadi 4.272. Kondisi buruk ini juga ditambah oleh keadaan modal
swasta yang mencapai 13.488. Mengalami defisit pada tahun 2000/01
sebesar 9.990 dengan rincian penanaman modal langsung 4.551 dan lainnya
5.439.
- Selisih perhitungan (error and omission)
Dari
data di atas jumlah perhitungan aliran modal yang tidak dicatat
semakin meningkat. Pada tahun 1996/97 hanya sebesar 701 tapi di tahun
2000/01 meningkat drastis sebesar 3.123. Jadi jelaslah bahwa aliran
modal yang masuk ke Indonesia jumlah yang tidak dicatat cukup besar.
- Neraca Keseluruhan
Data
neraca keseluruhan di atas memang menunjukkan surplus tapi masih
mengalami penurunan dari 5.300 (1996/97) ke 5.043 (2000/01). Kondisi ini
dapat dilihat dari jumlah ekspor impor barang yang surplus dapat
menutupi kekurangan ekspor-impor jasa yang defisit. Surplus tinggi pada
neraca perdagangan menjadi faktor perubahan neraca berjalan dari
defisit menjadi surplus. Meski keadaan neraca keseluruhan surplus akan
tetapi masih harus ada perbaikan ke depan karena kondisi yang tidak
kukuh.
Apabila perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang
pesat, impor akan mengalami kenaikan pesat pula. Begitu juga
ekspor-impor jasa akan mengalami kenaikan. Setelah itu kemungkinan yang
akan terjadi pemerintah akan menambah pinjaman pada negara lain dan
utang yang akan dilunasi belum tentu setara dengan jumlah pinjamannya.
Jika kondisi ini tidak dibarengi dengan keadaan neraca perdagangan dan
aliran modal swasta maka kondisi perekonomian negara ini akan lemah.
Untuk menciptakan kekokohannya lagi dibutuhkan tanggung jawab elemen
negara.
d. Neraca pembayaran surplus, defisit, dan seimbang
Tanda
(+) dan (-) dapat menyebabkan saldo neraca pembayaran menjadi surplus,
defisit, dan seimbang. Alasannya, karena neraca pembayaran diperoleh
dari penjumlahan selisih perhitungan, saldo neraca berjalan dan saldo
neraca modal. Dapat diformulasikan sebagai berikut:
Jadi, apabila
anatara transaksi berjalan dan modal diakumulasi akan berdampak
tehadap neraca pembayaran menjadi defisit, surplus, dan seimbang. Lebih
jelasnya mengenai maksud defisit, surplus, dan seimbang. Seperti di
bawah ini:
1. Neraca Pembayaran Defisit
Defisit
pembayaran terjadi jika transaksi berjalan dan transaksi modal
sama-sama defisit, ini bisa disebabkan oleh: 1. Defisit transaksi
berjalan lebih besar daripada surplus transaksi modal, 2. Defisit
transaksi modal lebih besar daripada surplus transaksi berjalan. Jadi,
defisit neraca pembayaran terjadi jika pembayaran impor barang dan jasa
serta modal keluar lebih besar daripada penerimaan barang ekspor
barang atau jasa dan modal masuk.
Defisit neraca pembayaran bagi
suatu negara dapat menghabiskan cadangan devisa, sehingga harus
meminjam uang dari negara lain untuk menutupi kekurangan dana dalam
membiayai impor barang dan jasa. Akibatnya, nilai uang dalam negeri
semakin merosot atau terdepresiasi. ketika devisa terus menipis, maka
yang terjadi negara lain akan berhenti memberikan pinjaman untuk
menghindari kredit macet.
Untuk mengantisipasi permasalahan ini,
dapat diterapkan dua kebijakan. Pertama, kebijakan pengalihan
pengeluaran, yaitu dengan cara, penurunan nilai tukar mata uang
terhadap valuta asing. Tindakan yang seperti ini disebut devaluasi
dalam sistem kurs tetap atau depresi dalam sistem kurs mengambang.
Akibatnya, harga barang ekspor menjadi murah di pasar internasional.
Sementara itu, harga barang impor menjadi mahal di pasar dalam negeri.
Selanjutnya, penerimaan ekspor barang dan jasa akan meningkat,
sebaliknya pembayaran impor barang dan jasa menurun. Dengan demikian,
cadangan devisa semakin bertambah sehingga neraca pembayaran menjadi
surplus atau seimbang. Kedua, kebijakan pengurangan pengeluaran.
Caranya dengan mengurangi permintaan masyarakat dalam negerim melalui
kebijakan moneter dan fiskal. Akibatnya, harga barang dan jasa eksor
lebih kompetitif Karena harga turun.
2. Neraca Pembayaran Surplus
Neraca
pembayaran akan surplus disebabkan oleh tiga kondisi: Pertama, jika
transaksi berjalan dan transaksi modal sama-sama surplus. Kedua, surplus
transaksi berjalan lebih besar daripada defisit transaksi modal.
Ketiga, surplus transaksi modal lebih besar daripada defisit transaksi
berjalan. Intinya surplus neraca pembayaran dapat terjadi jika
penerimaan dari ekspor barang atau jasa dan modal masuk lebih besar
daripada pembayaran impor barang atau jasa dan modal keluar.
Jika
defisit neraca pembayaran meruntuhkan perekonomian suatu negara,
bagaimana dengan surplus neraca pembayaran? Surplus neraca pembayaran
tentun menguntungkan, karena negara akan memiliki cadangan devisa yang
cukup. Tetapi perlu diketahui, bahwa surplus neraca pembayaran yang
terus-menerus diperoleh suatu negara tidak lagi menguntungkan. Karena
posisi neraca pembayaran negara tersebut sangat kuat. Posisi ini akan
menaikkan nilai tukar suatu negara sehingga mengurangi daya saing barang
atau jasa ekspornya. Dan naiknya nilai tukar atau kurs valuta asing
juga menaikkan harga barang atau jasa ekspor negara di mata pasar
internasional. Sebaliknya, harga barang atau jasa impor menjadi murah
sehingga penduduk lebih suka membeli barang atau jasa impor. Jadi,
surplus neraca pembayaran hanya digunakan untuk membiayai impor
tersebut.
Selain kehilangan daya saing di pasar internasional,
surplus neraca pembayaran yang terus menerus juga meningkatkan laju
inflasi di dalam negeri. Alasannya karena jumlah uang beredar semakin
bertambah sebagai akibat tindakan pemerintah yang mengucurkan uang ke
pasar untuk mengendalikan naikknya nilai tukar mata uang lokal terhadap
mata uang asing. Inflasi ini akan menaikkan harga barang atau jasa di
dalam dan luar negeri. Jadi, surplus neraca pembayaran akan mengurangi
atau menghapus daya saing yang beredar barang atau jasa ekspor pasar
internasional.
3. Neraca Pembayaran Seimbang
Neraca
pembayaran dapat dikatakan seimbang jika penerimaan internasional sama
dengan pembayaran internasional. Jadi, neraca pembayaran akan seimbang
jika surplus transaksi berjalan sama dengan surplus transaksi modal.
Saldo
neraca pembayaran memang selalu sama dengan nol. Hal ini merupakan
semata-mata karena konsekuensi dari pembukuan transaksi luar negeri
tersebut. Artinya, uang dan barang yang mengalir keluar harus diimbangi
dengan uang dan barang yang mengalir masuk. Jadi, neraca pembayaran
suatu negara selalu seimbang dari segi akuntansi. Tetapi, saldo nol di
neraca pembayaran tidak mempunyai arti penting bagi analisi ekonomi.
Alasannya karena kondisi ini tidak dapat menunjukkan kondisi keuangan
internasional suatu negara. (Ekonomi SMA; Endo Sariono et all)
Pernyataan
yang lain, ditukil dari buku Sadono Sukirno bahwa neraca pembayaran
selalu seimbang. Penyebab neraca pembayaran selalu seimbang adalah
ketidakseimbangan dalam neraca neraca berjalan dan neraca modal akan
diseimbangkan oleh perubahan cadangan valuta asing yang dimiliki oleh
bank sentral.
II. KURS VALUTA ASING
Kurs adalah
suatu perbandingan nilai tukar mata uang suatu negara dengan negara
lain. Dalam artian mata uang suatu negara dengan negara lain digunakan
untuk transaksi ekonomi internasional. Bisa juga diartikan
kecenderungan seseorang, perusahaan, dan pemerintah yang menukar uang
negaranya untuk memperoleh mata uang asing. Karena dibutuhkan sebagai
transaksi internasional.
a. Pelaku Pasar Valuta Asing
Ada
beberapa pihak yang ikut bermain dalam percaturan pasar valuta asing.
Pihak itu bisa individu biasa yang menjual dan membeli mata uang asing
untuk keperluan pembayaran, eksportir dan importir ataupun bank,
perusahaan, dan pemerintah. Andilnya pelaku pasar valuta asing adalah
untuk melakukan transaksi bisnis internasional.
b. Macam-macam kurs
Di bursa valuta asing dikenal dua macam kurs, :
1. Kurs jual ialah nilai mata uang yang digunakan apabila pedagang valas (money changer) melakukan penjualan valuta asing.
2. Kurs beli ialah nilai mata uang yang digunakan apabila pedagang valas melakukan pembelian terhadap valuta asing.
Lebih jelasnya contoh di bawah ini merupakan transaksi valas yang terjadi di Bank Indonesia (BI):
Mata uang Jual (Rp) Beli (Rp)
US $
Pound
Aus $
Sin $
HK $
Yen
Euro 9.998,00
16.145,77
8.876,22
7.126,16
1.288,98
110,59
14.33,13 8.998,00
14.525,47
7.985,73
6.407,46
1.159,91
99,51
12.890,53
Sumber: Kompas, Selasa, 22 Desember 2009
Dari tabel nilai jual-beli uang asing di atas. Dapat dicontohkan:
a.
Suatu saat, seorang mahasiswa AN-NR Unej bernama Brudul ingin tour ke
Singapura ia ingin membawa $ 3000, berapa rupiah yang harus ia
keluarkan? Dalam hal ini mahasiswa tersebut harus menggunakan kurs jual.
Jawab : Rp 7.126,16 x 3000
: Rp 21.378.480
Jadi mahasiswa tersbut harus membayar sebesar Rp 21.378.480
untuk memperoleh $ 3000.
b.
Sepulang mahasiswa itu dari Singapura masih memiliki sisa $ 10, berapa
rupiah yang ia akan peroleh? Di sini ia harus menggunakan kurs beli.
Jawab : Rp 6.407,46 x 10
: Rp 64.074,6
Jadi ia masih memiliki sisa uang sebesar Rp 64.074,6
c. Faktor yang mempengaruhi kurs valuta asing
Data
kurs valuta asing di atas tidak selama seperti itu (stagnan), pada
dasarnya kurs valuta asing senenatiasa terus berubah dari hari kehari.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.
Adapun faktor yang mempengaruhi perubahan kurs, sebagai berikut:
1. Permintaan dan Penawaran Valas
Sesuai
dengan hukum permintaan dan penawaran, harga valas akan menjadi lebih
mahal dari harga nominal harga yang berlaku bila permintaan melebihi
jumlah yang ditawarkan atau jumlah permintaan tetap, sementara penawaran
berkurang. Begitu sebaliknya, apabila permintaan sedikit maka harga
juga akan murah.
Lebih jelasnya, perlu dipahami hukum permintaan dan penawaran yang terjadi terhadap mata uang asing:
a. Hukum Permintaan : - Semakin tinggi harga mata uang, semakin sedikit permintaan akan uang tersebut.
- Semakin rendah harga suatu mata uang, maka semakin banyak permintaan mata uang tersebut.
b. Hukum penawaran : - Semakin tinggi harga mata uang, semakin penawaran mata uang tersebut.
- Semakin rendah harga suatu mata uang, maka semakin sedikit pula penawaran uang tersebut.
Setelah
hukum permintaan dan penawaran pada transaksi mata uang asing atau
kurs. Selanjutnya, aplikasi dari kedua hukum tersebut dapat diterangkan
pada tabel di bawah ini:
► Penentu Harga Mata Uang Asing
-
Kurva yang menurun dari kiri atas ke kanan bawah menunjukkan bunyi
hukum permintaan, bahwa saat dolar tinggi maka permintaan terhadap dolar
akan rendah seperti ditunjukkan kurva di atas, ketika harga dolar
sebesar 250 yen maka permintaannya hanya sebesar 1 billion. Lalu ketika
harga dolar rendah akibatnya permintaan naik. Seprti ketika harga
dolar sebesar 100 yen permintaannya menjadi 4 billion.
- Kurva
naik dari kiri bawah ke kanan atas merupakan bentuk dari hukum
penawaran, dijelaskan bahwa apabila harga dolar rendah maka
penawarannya juga akan rendah, yaitu harga dolar yang sebesar 50 yen
berakibat pada sedikitnya penawaran menjadi sebesar 1 billion saja. Dan
sebaliknya, jika mata uang dolar tinggi maka penawaran akan meningkat
-
Titik temu antara demand dan supply merupakan perpotongan
(Equilibrium). Kesimpulannya permintaan dan penawaran terhadap dolar
sama yaitu pada saat satu dolar sebesar 150 yen permintaan dan
penawarannya sama-sama sebesar 2,5 billion.
► Penentuan Kurs Pertukaran Oleh Pemerintah
Nilai
kurs yang ditetapkan oleh pasar bebas tidak sama dengan keputusan dan
kebijakan pemerintah. Ini bertujuan untuk menstabilkan perekonomian
suatu negara. Pada gambar kurva di atas adalah kurva yang ditetntukan
oleh pemerintah dan memiliki kesamaan dengan kurva yang dibuat oleh
pasar bebas. Dalam kurs valuta asing yang ditentukan oleh pasar bebas
menjelaskan, bahwa satu dolar sama dengan 150 yen. Telah diterangkan
sebelumnya bahwa bertemunya titik DD dan SS akan menyebabkan jumlah sama
antara permintaan dan penawaran yaitu sebesar 2,5 billion. Akan tetapi
pemerintah Jepang menganggap bahwa kurs yang dibuat oleh pasar bebas
kurang sesuai. Sehingga pemerintah Jepang menentukan sendiri nilai
tukarnya. Ia mengasumsikan bahwa: Pertama, satu dolar sama dengan 250
yen (kurs pertukaran I), asumsi kedua, satu dolar sama dengan 100 yen
(kurs pertukaran ke II).


Keterangan: - Apabila harga mata
uang suatu negara yang ditetapkan pemerintah lebih rendah dari
ketentuan pasar bebas maka disebut undervalued currency. Dalam grafik
di atas ditunjukkan pada kurs pertukaran I.
- Apabila harga mata
uang suatu negara yang ditetapkan pemerintah lebih tinggi ketentuannya
dibanding pasar bebas maka disebut overvaluaded currency. Ini
ditunjukkan grafik di atas pada garis kurs pertukaran II.
► Perubahan-Perubahan Kurs
Perubahan
kurs yang ditetapkan oleh pasar bebas dapat berubah seiring dengan
gejolak perubahan permintaan dan penawaran seperti di bawah ini:
1. Efek Kenaikan Permintaan
Kurva
di atas menunjukkan kenaikan permintaan (D-D1 dan S-S1). Ketika
terjadi permintaan sebesar D dan penawaran sebesar S menunjukkan
pertukaran kurs satu dolar sama dengan 150 (150,Q). Tapi saat kurva DD
bergerak ke atas menjadi D1D1 harga satu dolar tidak lagi 150 akan
tetapi berubah menjadi 200 yen.
2. Efek Kenaikan Penawaran
Adapun
kurva di atas menunjukkan perubahan yang terjadi pada penawaran, yaitu
dari SS menjadi S1S1. Sehingga berakibat pada turunnya nilai mata uang
dolar dari 200 yen menjadi 150 yen. Kedua naiknya kuantitas uang yang
dijual-belikan dari QA menjadi QB.
Keterangan :
-
Apabila kurs ditentukan oleh pasar bebas bernama kurs pertukaran
berubah bebas atau kurs pertukaran mengambang (Floating Exchange Rate)
karena akan selalu mengalami perubahan sesuai dengan penawaran dan
permintaan terhadap uang asing. Ini terbagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Clean Float (mengambang murni), yaitu penentuan nilai kurs tanpa adanya campur tangan pemerintah.
2.
Dirty Float (mengambang terkendali), yaitu pemerintah turut serta
dalam memepengaruhi nilai kurs melalui kebijakan moneter dan kebijakan
fiskal.
- Sedangkan kurs yang dibuat oleh pemerintah disebut kurs
tetap atau kurs pertukaran resmi (Fixed Exchange Rate). Kurs tetap
adalah sistem yang mematok nilai kurs valuta asing terhadap mata uang
negara tersebut dengan nilai tertentu yang selalu sama pada suatu
priode. Kurs tetap membuat flukturasi nilai tukar suatu mata uang dengan
mata uang lainnya, ditentukan oleh pemerintah. Jadi, ada kurs terendah
(floor price) dan kurs tertinggi (ceiling price) yang dapat ditolerir
pemerintah. Jadi, kurs normal dan ekonomi stabil tercapai jika nilai
kurs bergerak antara ceiling price dan floor price.
► Kelebihan dan Kekurangan sistem kurs mengambang dan Sistem Kurs Tetap dapat di lihat pada tabel di bawah ini:
Kelebihan Kekurangan
Floating
Exchange
Rate
1. Tingkat keseimbangan pasar valuta asing selalu tercapai karena
ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran melalui mekanisme
pasar
2. Pemerintah tidak perlu menyediakan dana untuk mengatur
keseimbangan pasar valuta asing 1. Tidak tetapnya kurs akan menyulitkan
pemerintah untuk mengambil keputusan atau kebijakan dalam pelaksanaan
pembangunan.
2. memudahkan timbulnya spekulasi dalam perdagangan mata uang asing (valas)
Fixed Exchange
Rate
1. Memudahkan pemerintah dalam mengambil keputusan.
2.
Tidak mungkin menimbulkan spekulasi-spekulasi dalam perdagangan bebas
1. Pemerintah harus menyediakan dana atau cadangan valas untuk
memperbaiki disequiblirium pasar valas.
2. Selalu terjadi keseimbangan pasar
2. Tingkat Inflasi
Faktor
kedua yang menyebakan nilai kurs berubah adalah Tingginya inflasi yang
terjadi pada suatu Negara mengindikasikan mahalnya barang-barang
tertentu di Negara tersebut. Akibatnya terjadi penurunan nilai mata uang
terhadap pasar valuta asing. Ketika terjadi lonjakan harga pada suatu
negara yang lebih mahal dari negara lain maka tingkat impor barang akan
meningkat. Akhirnya harga ekspor meningkat pula sehingga negara
tersebut cenderung mengurangi ekspor ke negara lain. Dampaknya juga
terjadi pada nilai mata uang suatu Negara yang semakin rendah di pasar
valuta asing sehingga mereka mengurangi penawaran. Sedangkan permintaan
terhadap mata uang asing akan meningkat.
3. Tingkat Pendapatan dan Produksi (Pertumbuhan Ekonomi)
Apabila
pada suatu priode tertentu terjadi pertumbuhan ekonomi yang relatif
pesat yang mengakibatkan tingginya tingkat pendapatan masyarakat, daya
beli masyarakat akan semakin tinggi. Pada kondisi yang sama, kapasitas
produksi negara tersebut tidak mampu memenuhi atau permintaan
masyarakat. Akhirnya, negara tersebut akan mengimpor barang dari negara
lain. Semakin besar barang yang diimpor, semakin besar pula permintaan
mata uang asing tersebut sehingga harganya relatif akan semakin naik
dari harga semula terhadap mata uang lokal.
Sedangkan jika di atas
terjadi perkembangan impor, apabila sebaliknya yang berkembang adalah
tingkat ekspor suatu negara maka nilai mata uangnya akan naik di pasar
valuta asing dan permintaan lebih capat perjalanannya dibandingkan
penawaran.
4. Perubahan Dalam Cita Rasa Masyarakat
Hal
ini berkaitan dengan selera konsumen dalam memilih barang. Perubahan
cita rasa akan menyebabkan perubahan pula atas permintaan terhadap
barang dalam negeri dan luar negeri. Apabila kualitas barang dalam
negeri lebih baik dari yang diimpor maka masyarakat akan berkurang
memanfaatkan barang impor. Begitu sebaliknya, jika kualitas barang
dalam negeri lebih rendah dan barang impor lebih bagus kualitasnya maka
masyarakat cenderung menaikkan impornya. Akhirnya dua kemungkinan di
atas dapat mempengaruhi tingkat permintaan dan penawaran terhadap
valuta asing.
5. Tingkat bunga dan Investasi
Pengembalian
bunga dan investasi akan menyebabkan kecenderungan dalam mengalirkan
modal. Apabila di dalam negeri tingkat bunga dan investasi rendah maka
modal akan mengalir ke luar negeri. Jika dalam negeri tersebut
mengembalikan bungan dan investasi tinggi maka modal dari luar negeri
akan masuk ke dalam negeri tersebut. Akibatnya akan berimbas pada nilai
mata uang suatu negara ketika telah mendapat aliran modal yang banyak.
Dan sebaliknya nilai mata uang suatu negara akan terkikis nilainya saat
banyak modal mengalir ke luar negeri.
6. Pengawasan Pemerintah
Ada
dua kebijakan yang sering dilakukan oleh pemerintah dalam rangka
mengawasi nilai uangnya. Pertama, kebijakan fiskal dengan menaikkan
tarif pajak dan mengetatkan belanja negara. Kedua, melalui kebijakan
moneter dengan menaikkan cadangan minimum dan menaikkan suku bank
(politik diskonto).
7. Perkiraan (Ramalan), Spekulasi, Isu, dan Rumor.
Ramalan
para ahli di bidang perdagangan uang, politik, dan ekonomi yang
sifatnya negatif bagi negara tersebut cenderung menyebabkan turunnya
permintaan mata uang local. Akibatnya, nilai mata uang local akan
semakin turun. Namun, bila perkiraan para ahli tersebut tidak terbukti,
ancaman berikutnya datang dari para spekulan uang.
8. Neraca Pembayaran Luar Negeri (balance of payment)
Isi
dari neraca pembayaran diantaranya adalah transaksi berjalan (current
account=TB), neraca modal (capital account=NM). TB dan NM akan
menggambarkan atau memperlihatkan berubahnya cadangan devisa. Apabila
TB > NM, berarti cadangan devisa berkurang. Sedangkan jika TB < NM
maka cadangan devisa berubah bertambah. Dengan begitu cadangan devisa
bernilai positif sehingga berakibat pada sentimen positif nilai mata
uang lokal setelah itu nilainya akan semakin meningkat.
9. Pertumbuhan Ekonomi
Efek
yang akan diakibatkan oleh suatu kemajuan ekonomi pada nilai mata
uangnya tergantung pada corak pertumbuhan ekonomi yan g berlaku. Apabila
kemajuan itu terutama diakibatkan oleh perkembangan ekspor, maka
permintaan ke atas mata uang negara itu naik. Tapi, apabila kemajuan
tersebut menyebabkan impor berkembang lebih cepat dari ekspor, penawaran
mata uang negara itu lebih cepat bertambah dari permintaannya, dengan
begitu nilai mata uang negara tersebut akan merosot
10. Perubahan Harga Barang Ekspor dan Impor
Harga
suatu barang merupakan salah satu faktor terpenting yang menentukan
apakah suatu barang akan diimpor atau diekspor. Barang-barang dalam
negeri yang dapat dijual dengan harga yang relatif murah akan menaikkan
ekspor dan apabila harganya naik maka ekspornya akan berkurang.
Pengurangan harga barang impor akan akan menambah jumlah impor, dan
sebaliknya. Kenaikan barang impor akan mengurangi impor.
d. Kurs pertukaran dan Neraca Pembayaran
Telah
kita ketahui sebelumnya, bahwa penentu kurs valuta asing adalah
pemerintah dan pasar bebas. Ketetapan pemerintah mengenai kurs berdampak
pada neraca pembayaran yang tidak seimbang. Sedangkan kurs yang
ditentukan oleh pasar bebas akan mengalami disequiblirium terus menerus
dalam neraca pembayaran. Lebih jelasnya, perhatikan uraian dan grafik
di bawah ini:
1. Neraca Pembayaran dalam Sistem Kurs Tukaran Berubah
Kurva
di atas menggambarkan neraca pembayaran dalam sistem kurs tukaran
berubah bebas. Kurva dari kiri atas ke kanan bawah (DD) merupakan
permintaan penduduk Indonesia terhadap mata uang baht. Dan Thailand
menawarkan bath yang ditunjukkan oleh kurva dari kiri bawah ke kanan
atas (SS). Bertemunya kurva DD dan SS menunjukkan harga 1 bath sama
dengan 200 rupiah. Titik temu merupakan equiblirium sehingga dampaknya
impor barang antara Indonesia dan Thailand besar harga kurs nya sama Q1.
Lalu terjadi pergeseran yang disebabkan oleh perubahan selera orang
Thailand untuk mengimpor lebih barang dari Indonesia. Sehingga faktor
cita rasa akan menggeser SS menjadi S1S1. Namun, permintaan orang
Indonesia tetap tidak berubah akhirnya nilai mata uang bath turun dari
200 menjadi 100 di mata kurs.
Efek kegiatan di atas dapat
mempengaruhi neraca pembayaran. Berubahnya cita rasa penduduk Thailand
yang menambah impornya atas Indonesia dari Q1 sampai Q2. Ketika semacam
ini terjadi, maka nilai barang Thailand akan menjadi murah dan
Indonesia menaikkan tingkat impornya terhadap Thailand akhirnya keadaan
neraca pembayaran menjadi seimbang.
2. Neraca Pembayaran dalam Sistem Kurs Pertukaran Tetap
Kurva
DD merupakan permintaan Indonesia terhadap dolar dan SS adalah
penawaran dolar terhadap Indonesia. Jika kurs ditenntukan oleh pasar
bebas maka satu dolar sama dengan 10.000. Pada kurs ini sebanyak Q¬0 ¬
dolar diperjual-belikan antara Amerika dan Indonesia. Dari kurva di atas
bahwa permintaan dan penawaran seimbang (10.000,Q0).
Apabila
kurs tidak ditetapkan oleh pasar melainkan ditetapkan oleh pemerintah,
kemungkinan yang terjadi adalah rendahnya nilai tukar rupiah terhadap
dolar sebesar 12.500 (undervaluaded) dan tingginya nilai tukar rupiah
terhadap dolar sebesar 7.500 (overvaluaded).
Gambar kurva di atas
dapat dikaji jika satu dolar sama dengan 12.500 maka permintaan dan
penawaran tidak seimbang. Jumlah yang ditawarkan oleh Amerika lebih
besar dari permintaan penduduk Indonesia terhadap dolar. Akhirnya neraca
pembayaran Indonesia menjadi surplus.
e. Kelebihan dan kekurangan Pasar Valuta Asing
► Kelebihan
- Sebagai sumber informasi bagi masyarakat tentang keadaan dan kurs valuta asing.
- Membantu masyarakat dalam menyediakan uang asing.
- Memudahkan melakukan transaksi dengan pihak asing.
-
Mengurangi resiko valas. Bila ditentukan nilai kurs tertentu dalam
perjanjian, maka eksportir dan importir yang menandatangani perjanjian
akan terhindar dari kerugian besar akibat dari perubahan kurs
► Kekurangan
Mata uang asing yang bebas diperjual-belikan oleh siapa saja dapat memungkinkan terjadinya spekulasi yang merugikan negara.
III. KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI TERBUKA
1. Masalah Yang Dihadapi Perekonomian Terbuka
a. Ketika suatu negara menghadapi masalah pengangguran namun pada saat itu pula terjadi surplus neraca pembayaran.
b. Inflasi melanda negara tapi masih diiringi surplus neraca pembayaran.
c. Negara yang dilanda defisit neraca pembayaran dan membludaknya tingkat pengangguran.
d. Inflasi melanda negara dan neraca pembayaran dalam posisi buruk, yaitu deefisit.
2. Kebijakan Pemerintah Menanggulangi Masalah Ekonomi
Dua
permasalah di atas (no 1 dan 2) yang perlu diatasi adalah pengangguran
atau inflasi, neraca pembayaran yang surplus menunjukkan posisi yang
menguntungkan. Oleh sebab itu suatu negara harus menitikberatkan untuk
membahas pengangguran atau inflasi.
Permasalahan yang lebih rumit
ketika suatu negara menghadapi masalah perekonomian dua sekaligus.
Seperti poin 3 dan 4. permasalahan inflasi dan pengangguran yang
ditambah dengan terpuruknya neraca pembayaran, yaitu dalam posisi
defisit mengharuskan negara untuk menyelesaikan atau membahas dengan
tanggap.
a. Kebijakan memindahkan perbelanjaan
Permasalahan
negara yang dilanda defisit dan maraknya tingkat pengangguran problem
solving-nya dengan menggunakan kebijakan memindahkan perbelanjaan.
Kebijakan ini merupakan langkah pemerintah menangani defisit neraca
pembayaran sehingga menambah ekspor dan meminimalisir impor.
Langkah
pemerintah dalam menghadapi masalah poin 3 di atas yaitu dengan
mengurangi impor dan mendorong konsumsi dalam negeri seprti di bawah
ini:
a. Melakukan Pembatasan Impor
Barang impor negara
dibatasi dengan menaikkan tarif pajak. Tarif pajak ini dilakukan untuk
menaikkan harga barang impor. dilain sisi pemerintah menganjurkan
kepada penduduknya untuk mengkonsumsi barang milik negara. Tujuannya
untuk meningkatkan pendapatan dalam negeri. Sehingga dapat menjadi
suplemen neraca pembayaran yang difisit.
b. Menekan atau mengurangi penggunaan valuta asing
Kebijakan
ini dilakukan pemerintah dengan cara pemerintah melalui bank central
menekan pengguaan valuta asing. Jadi pengusaha dan masyarakat harus
memiliki alasan jelas ketika ingin menggunakan valuta asing. Karena
pemerintah meng-isyaratkan agar penggunaan valuta asing hanya untuk
keperluan barang pokok, bahan mentah sektor industri. Istilahnya
pemerintah menggunakan valuta asing dengan skala prioritas.
c. Menurunkan nilai mata uang
Dampak
dari kebijakan ini adalah naiknya harga barang barang impor menjadi
sangat mahal sehingga akan mengurangi impor. Sedangkan barang ekspor
menjadi lebih murah di luar negeri akibatnya ekspor akan bertambah.
Langkah pemerintah untuk menambah ekspor sehingga penerimaan valuta asing meningkat adalah sebagai berikut:
a.
Memberikan intensif fiskal dan moneter untuk menambahkan kegiatan
dalam produksi barang ekspor. Maksud dari intensif adalah membina
kawasan perusahaan dan kawasan bebas pajak, memberikan kemudahan
pinjaman atau memberi subsidi ekspor.
b. Mewujudkan kestabilan
upah dan harga. Kemampuan negara dalam mengekspor barang menjadi
penentu persaingan luar negeri. Faktor yang mentukan adalah rendahnya
biaya produksi. Untuk itu upah dan harga barang dalam negeri perlu
distabilkan.
c. Menurunkan nilai valuta. Selain dapat mengurangi impor turunnya nilai valuta dapat memicu pertambahan ekspor.
b. Kebijakan memindahkan perbelanjaan
Kebijakan
ini dilakukan oleh pemerintah ketika menghadapi permasalahan inflasi
dan diiringi defisit neraca pembayaran (masalah no 4). Kebijakan ini
hanya mengurangi impror dan tidak berdampak pada ekspor. Kebijakan ini
akan menguntungkan atau menyeimbangkan neraca pembayaran. Adapun
langkah-langkah kebijakan sebagai berikut:
a. Menaikkan pajak pendapatan
Pendapatan
yang siap dibelanjakan akan dikurangi pajaknya sehingga dampak dari
pengurangan ini juga akan mengurangi konsumsi rumah tangga.
b. Menaikkan suku bunga dan menurunkan penawaran uang
Hal
ini dapat dicapai dengan menggunakan kebijakan moneter seperti
menikkan tingkat cadangan minimum dan menaikkan suku bank (politik
diskonto). Akibat dari pengurangan terhadap penawaran uang dan suku
bunga yang tinggi akan mempengaruhi investasi sehingga mengurangi
pengeluaran agregat.
c. Mengurangi pengeluraran pemerintah.
Pengeluaran
pemerintah merupakan sebagian dari pengeluaran agregat. Berkurangnya
pengeluaran pemerintah juga akan mengurangi pengeluaran agregat.
langkah pemerintah ini dan langkah menaikkan pajak pendapatan
digolongkan sebagai kebijakan fiskal.
c. Devaluasi
Devaluasi adalah langkah pemerintah untuk mengurangi nilai mata uang domestik sebanding dengan nilai mata uang asing.
Efek yang akan ditimbulkan oleh devaluasi adalah:
a. Ekspor bertambah karena pasaran luar negeri menjadi lebih murah.
b. Impor berkurang, karena barang luar negeri menjadi mahal.
c. Naiknya ekspor dan berkurangnya impor akan berdampak pada perbaikan neraca pembayaran.
d.
Pendapatan nasional akan bertambah karena (a) ekspor naik, (b)
pengurangan impor menaikkan permintaan produksi domestic (c) sehingga
mendorong investasi.
e. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan
harga dalam negeri yang diakibatkan oleh naiknya harga barang-barng
impor. Inflasi akan berlaku ketika kemakmuran tinggi tarjadi dan
dibarengi devaluasi. Hal ini disebabkan karena naiknya ekspor dan
berkembangnya kegiatan ekonomi lainnya yang disebabkan oleh devaluasi
akan menaikkann upah buruh dan harga-harga karena permintaan yang
berlebihan.
f. Kemungkinan terjadi ketika negara melakukan
devaluasi negara lain akan menyerang balik sehingga ia melakukan
pembatasan impor terhadap negara yang melakukan ekspor dan
mendevaluasikan valutanya.
Syarat untuk mensukseskan devaluasi:
a. Ekspor negara elastis.
Dalam
keadaan ini hasil penjualan ekpsor bertambah. Apabila permintaan luar
negeri ke atas barang ekspor negara yang mendevaluasikan valutanya
tidak elastis, devaluasi akan mengurangi hasil penjualan ekspor.
b. Permintaan impor negara itu adalah elastis.
Apabila
permintaan impor elastis, devaluasi mengurangi impor dengan tingkat
yang lebih tinggi dari penurunan nilai mata uangnya. Maka pengeluaran
terhadap barang impor akan menjadi lebih kecil dari sebelum devaluasi.
c. Di dalam negeri todak belaku inflasi.
Apabila
devaluasi menyebabkan inflasi di dalam negeri, barang ekspor dan
barang buatan dalam negeri akan mengalami kenaikan harga. Apabila
kenaikan harga lebih besar dari tingkat devaluasi akhirnya harga ekspor
lebih mahal dan barang impor lebih murah dari sebelum devaluasi. Pada
ahkirnya negara itu tidak memperoleh sembarang keuntungan dari
devaluasi.
d. Negara lain tidak melakukan aksi balasan dan ber-devaluasi pula.
Apabila
negara lain melakukan tindakan yang sama, devaluasi tidak akan
memberikan sembarang efek pada neraca pembayaran dan perekonomian
negara. Langkah seperti itu akan dijalankan apabila negara lain tersebut
merupakan partner dagang yang sangat penting.
https://www.facebook.com/john.pohan